Prabowo Luncurkan Smartboard, Era Baru Belajar Digital Dimulai
Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan penggunaan interactive flat panel (IFP) sering di sebut juga smartboard di sekolah sekolah indonesia. Program ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk digitalisasi pemebalajaan dan pemerataan akses pendidikan.
Latar Belakang Peluncuran IFP
Dalam kunjungan kerja ke SMP Negeri 4 Bekasi pada 17 November 2025, Prabowo menyaksikan langsung penggunaan IFP di salah satu kelas. Menurut laporan, saat acara itu ada 1.137 sekolah dari 38 provinsi yang mengikuti peluncuran. Peluncuran ini merupakan bagian dari instruksi presiden nomor 7 tahun 2025, yang menekankan revitalisasi sekolah, pembangunan sekolah unggul, dan percepatan digitalisasi pembelajaran.
Baca Juga: Rekonstruksi Polda Metro Ungkap Jejak Kelam Ilham Pradipta
Skala dan Target Program
- Pemerintah menargetkan untuk mendistribusikan hingga 288.000 unit IFP dalam tahun ini.
- Menurut Sekretarian Kabinet, target jangka panjangnya adalah agar setiap kelas memiliki smartboard sebagai fasilitas standar.
- Program ini juga di rencanakan menjangkau hingga 330.000 sekolah.
Manfaat dan Fungsi Teknologi
Pengunaan IFP memungkinkan pembelajaran yang lebih interaktif, guru bisa menampilkan animasi, video, dan materi interaktif lainnya, membut pelajaran menjadi lebih menarik dan dramatis. Teknologi ini juga dapat membantu mengatasi kekuarangan guru di daerah terpencil. Prabowo menyatakan bahwa 20-30 guru terbaik tiap mata pelajaran akan mengajar dari studion pusat, dan materi mereka disiarkan ke sekolah sekolah menggunakan panel interaktif. Beberapa IFP juga di lengkapi kamera, yang memungkinkan pengawasan kelas secara real time. Siswa pun bisa mengakses ulang materi pelajaran melalui ponsel, karena rekaman pengajaran disimpan dan bisa di akses kembali.
Anggaran dan Infrastruktur
Menurut laporan Jakarta Globe, anggaran untuk program smart screen (layar pintar) ini mencapai sekitar Rp 7.9 Triliun. Salah satu tantangan terbesar adalah distribusi ke daerah terpencil, terutama di wilayah dengan akses listrik atau internet terbatas. Untuk mengatasi masalah listrik, Presiden dan stafnya menyebut kemungkinan menggunakan tenaga surya sebagai solusi di sekolah sekolah daerat 3T (tertinggal, terluar, terdepan).
Implementasi dan Hambatan
Di beberapa sekolah, jumlah IFP belum mencukupi setiap kelas. Contohnya, di SDN 3 Sudagaran (Kabupaten Banyumas), satu smartboard di gunakan untuk sampai enam kelas, sehingga sekolah membuat jadwal penggunaan bergilir untuk setiap kelas. Meskipun demikian, sekolah telah memberikan pelatihan kepada guru agar dapt menafaatkan IFP secara efektif. Dalam kunjungan ke SDN Cimahpar 5 di Bogor (pada hari pendidikan nasional 2025), Prabowo menyaksikan demonstrasi penggunaan papan pintar dan menyampaikan apresiasi kepada guru serta siswa atas pertisipasi dalam program digitalisasi pendidikan.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Program IFP yang di canangkan oleh Prabowo di harapkan dapat meratakan kualitas pendidikan, terutama di area yang sulit di jangkau atau kekurangan guru. Dengan teknologi digital, potensi belajar dapat berjalan lancar dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Peluncuran IFP-smartboard oleh Presiden Prabowo Subianto bukan sekedar simbol modernisasi, ini adalah langkah konkret mengubah wajah pendidikan di indonesia. Dengan target distribusi ratusan unit, program ini bisa menjadi salah satu skema digitalisasi pendidikan terbesar di dunia. Walaupun tantangan logistik dan infrastruktur tetap ada, kalau di kelola dengan baik, program ini punya potensi besar untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan di seluruh Tanah Air.